Sekilas Mengenal Sejarah Candi Ratu Boko


Sekilas Mengenal Sejarah Candi Ratu Boko 3
Sunset di Candi Ratu Boko

Sekilas Mengenal Sejarah Candi Ratu Boko. Candi Ratu Boko terletak kurang lebih sekitar 3 km ke arah selatan dari Candi Prambanan. Kawasan Ratu Boko yang berlokasi di atas sebuah bukit dengan ketinggian sekitar ± 195.97 m diatas permukaan laut. Situs Ratu Boko sebenarnya bukanlah sebuah candi, melainkan reruntuhan sisa sebuah kerajaan.

Sekilas Mengenal Sejarah Candi Ratu Boko 2
Candi Ratu Boko

Oleh karena itu, Candi Ratu Boko sering disebut juga Keraton Ratu Boko. Disebut Keraton Boko, karena menurut legenda yang beredar dimasyarakat situs tersebut merupakan sebuah istana Ratu Boko, ayah dari Lara Jonggrang.

Diperkirakan situs Ratu Boko dibangun dan digunakan pada zaman abad ke VIi oleh Wangsa Syailendra yang kalau itu beragama Buddha, namun kemudian situs tersebut diambil alih oleh raja-raja Mataram Hindu. Pada masa peralihan tersebut mengakibatkan bangunan Keraton Boko dipengaruhi oleh Hinduisme dan Buddhis Me.

Di situs Ratu Boko juga ditemukan sebuah prasasti berangka tahun 792 M yang dinamakan Prasasti Abhayagiriwihara. Isi prasasti tersebut mendasari dugaan bahwasannya Keraton Ratu Boko dibuat oleh Rakai Panangkaran.

Baca juga :  Kerajinan Tangan dari Tanah liat di Kasongan
Sekilas Mengenal Sejarah Candi Ratu Boko 1
Salah Satu Prasasti di Candi Ratu Boko

Prasasti Abhayagiriwihara ditulis menggunakan huruf pranagari, yang merupakan salah satu ciri khas prasasti Buddha. Didalam prasasti itu disebutkan bahwa Raja Tejapurnama Panangkarana, yang diperkirakan ialah Rakai Panangkaran, telah memerintahkan untuk pembangunan Abhayagiriwihara.

Nama yang sama juga disebut-sebut dalam sebuah Prasasti Kalasan (779 M), Prasanti Mantyasih (907 M), dan Prasasti Wanua Tengah 3 (908 M). Menurut para ahli, kata Abhaya berarti tanpa hagaya atau damai, giri berarti gunung atau bukit.

Dengan demikian, Abhayagiriwihara yang berartikan biara yang dibangun pada sebuah bukit yang penuh dengan kedamaian. Pada zaman pemerintahan Rakai Walaing PU Kombayoni, yaitu tahun 898-908, Abhayagiri Wihara berubah nama menjadi Keraton Walaing.

Keraton Ratu Boko yang menempati areal lahan cukup luas tersebut yang terdiri dari beberapa kelompok bangunan. Sebagian besar di antaranya pada saat ini hanyalah berupa reruntuhan.

Gerbang Candi Ratu Boko

Pintu gerbang masuk ke kawasan wisata Ratu Boko terletak disebelah sisi barat. Kelompok gerbang ini terletak di sebuah tempat yang cukup tinggi, sehingga dari area tempat parkir kendaraan, wisatawan harus melewati jalan menanjak sejauh sekitar kurang lebih 100 m.

Baca juga :  Tempat Menginap Murah Bogor Ga

Pintu masuknya terdiri atas dua gerbang, yaitu gerbang luar dan gerbang dalam. Gerbang dalam, yang ukurannya lebih besar adalah gerbang utama dari situs tersebut.

Sekitar antara 15 m dari pintu gerbang luar berdiri gerbang dalam atau gerbang utama. Gerbang tersebut terdiri atas lima gapura paduraksa yang berbaris lurus sejajar dengan pintu gerbang luar. Gapura utama diapit oleh dua gapura pendamping di setiap sisinya.

Walaupun pintu gerbang dalam ini terdiri atas lima gapura, namun tangga yang tersedia hanyalah tiga. Dua gapura pengapit yang berukuran kecil tidak dihubungkan dengan tangga.


Like it? Share with your friends!

52
47 shares, 52 points
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals